LlgE7jWGs9pfx18ljCTds00cnAM7wTgN53nmXvop

Laporkan Penyalahgunaan

Cari Blog Ini

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Iklan 728x90

10 Lorem Ipsum is simply dummy text of the printing and typesetting industry. Lorem Ipsum has been the industry's standard dummy text.

Tel: +01 19 9876-54321

Email: contact@mail.com

Banner Produk

Tags

Menu Halaman Statis

Blogku

Shin Tae Yong Pelatih Kejam? Anatoli Polosin Malah Pernah Bikin Pemain Timnas Indonesia Menangis

Ilustrasi 
Baru beberapa hari, platih asal Korea Selatan Shin Tae Ying sudah mrmbuat gebrakan untuk timnas Indonesia.

Shin tae yong mencoret beberapa nama yang pada era sebelumnya menjadi tulang punggung timnas Indonesia. Dan baru-baru ini pelatih asal korea tersebut juga mencoret 2 nama yaitu Serdy Hepy Fano dan Ahmad Afhridrizal.

Pencoretan Serdy Hepy Fano dan Ahmad Afhridrizal di tengarai karena tindakan indisipliner yaitu telat datang pada saat sesi latihan.

Dari pencoretan tersebut Banyak yang menilai Shin tae yong pelatih yang kejam, tapi rupanya kedisiplinan yang diterapkan oleh pelatih asal Korea tersebut bukan pertama kali ada di Timnas Indonesia.

Pelatih asal Belanda, Wim Rijbergen yang sempat menukangi Tim Merah-Putih di ajang Kualifikasi Piala Dunia 2014, juga doyan mencibir perilaku pemain yang tak disiplin. 

Dalam sebuah wawancara dengan media Belanda, Wim menyebut melatih Timnas Indonesia sebuah mimpi buruk. Ia kurang suka dengan budaya tak disiplin anak-asuhnya. Mereka diklaim sering terlambat datang latihan dan menyodorkan alasan yang tak jelas.

"Saat pertama kali saya melatih mereka, butuh empat hari sampai seluruh pemain lengkap. Yang satulah tantenya meninggal, yang satu lagi ini, yang sana menyampaikan alasan berbeda kenapa datang telat. Selalu ada sesuatu. Dan kalau saya berkomentar, mereka hanya berkata 'This is Indonesia,' lalu nyengir," sambung Wim.

Karier Wim tak panjang di Timnas Indonesia. Pemain sempat melakukan aksi boikot dilatih nakhoda yang menggantikan Alfred Riedl. "Ia seringkali mengeluarkan kalimat kasar ke kami dengan menggunakan bahasa Inggris. Tidak pantas pelatih timnas berlaku seperti itu," cerita Firman Utina, pemain timnas saat itu yang cukup vokal dengan perilaku Wim Rijbergen.

Tapi sejatinya mulut kasar Shin Tae-yong atau Wim Rijbergen tak ada apa-apanya dibanding Anatoli Polosin.

Anatoli Fyodorich Polosin yang didatangkan PSSI buat kepentingan SEA Games 1991 memiliki kiblat sepak bola yang jelas. Sebagai orang Eropa Timur, Polosin lebih mengedepankan kekuatan fisik ketimbang sepak bola indah yang pernah diturunkan pelatih asal Belanda, Wiel Coerver, untuk Tim Garuda pada era 1970-an.

Saat masa persiapan menuju SEA Games, Polosin menempa fisik Raymond Hattu dkk. Selama tiga bulan, fisik seluruh pemain digenjot dengan materi latihan yang di luar batas kemampuan pemain kala itu. Pemain muntah-muntah dan kabur dari pemusatan latihan jadi hal yang lumrah.

Kala itu, Polosin menilai Timnas Indonesia tidak bisa berbicara banyak karena kondisi fisik yang tidak memadai. Oleh karena itu, ia tetap jalan terus dengan metode “Shadow Football” walau Satgas Pelatnas saat itu, Kuntadi Djajalana, mengaku sempat ada perdebatan ketika Timnas Indonesia digembleng begitu keras.

“Polosin sempat melihat pertandingan Galatama sebelum memanggil pemain untuk pemusatan latihan. Ia pun bilang bahwa kami hanya kuat main di babak pertama saja kemudian menurun di babak kedua,” kata Sudirman.

Fisik para pemain Timnas Indonesia mengalami peningkatan drastis berkat gemblengan Polosin yang diketahui tidak cukup mahir bicara bahasa Indonesia selama melatih di Tanah Air. Ia bisa membuat pemain berlari menempuh jarak 4 kilometer dalam waktu 15 menit. Standar VO2Max pemain pun sudah sesuai dengan pemain Eropa.

Kekuatan fisik yang meningkat drastis dijajal Polosin dengan mengikuti ajang Presiden Cup di Seoul. Namun, hasilnya mengenaskan karena Tim Garuda takluk dari klub Austria, China U-23, Mesir, Korea Selatan, dan Malta. Timnas Indonesia kebobolan 17 gol dan hanya memasukan satu gol.

Kegagalan dalam beberapa laga uji coba tak diambil pusing oleh Polosin. Timnas Indonesia tetap melangkah penuh keyakinan ke Manila demi merealisasi target meraih medali emas pertama saat bermain di negeri orang.

“Hasil uji coba nggak bagus karena Polosin juga tidak peduli. Sebabnya intensitas latihan tetap tinggi selama periode uji coba itu dan dia baru menurunkan intensitas jelang tampil di SEA Games. Dia sudah menghitung semua itu menurut cara dia,” kata Sudirman.

Seperti Apa Latihan Keras ala Polosin?


Untuk mencapai kondisi kebugaran yang diinginkannya, Polosin meggembleng anak-asuhnya dengan sangat keras. Sesi latihan Timnas Indonesia digeber sehari tiga kali. Pagi, siang, dan sore.

Latihan pada siang hari yang dinilai berat. Para pemain dijemur di tengah hari bolong. Mereka diminta berlari keliling lapangan belasan kali. "Kalau lari sendirian sih enggak masalah. Kejadiannya tidak seperti itu, kami diminta lari dengan mengendong pemain lain. Capeknya luar biasa. Setiap selesai latihan pasti langsung para pemain tertidur pulas karena lelahnya," cerita Sudirman.

Selain secara tega menjemur pemainnya di bawah sinar matahari yang terik, Polosin juga doyan menyiksa para pemain Timnas Indonesia lari turun gunung bukit.

“Banyak keluhan, banyak suka, dan juga duka. Kami disiksa Polosin tanpa belas kasihan," kata Peri Sandria, striker Timnas Indonesia saat itu.

"Pemain menangis karena merasa enggak tahan jadi pemandangan rutin tiap harinya. Kalau sekarang mengingatnya bareng sesama pemain terkesan lucu. Tapi saat menjalaninya, diminta mengulang lagi saya enggak akan mau. Ampun deh. Kas Hartadi nangis meraung-raung saat diminta lari turun naik bukit. Dia bilang bal-balan opo iki kok pake naik gunung segala,” kata Sudirman.

Jaya Hartono dan Fakhri Husaini, menjadi pemain yang menyerah dan meninggalkan pelatnas akibat tak tahan menjalani latihan nakhoda asal Rusia tersebut. "Saya pribadi juga hampir menyerah. Siapa sih yang tahan disiksa dengan latihan maha berat setiap harinya," ujar Sudirman.

Lepas kebijakan tangan besi sang pelatih, Timnas Indonesia sukses mempersembahkan medali emas di SEA Games 1991, prestasi yang hingga saat ini belum bisa diulang lagi.

Timnas Indonesia tampil di SEA Games 1991 Filipina dengan memboyong 18 pemain. Dari 18 nama yang dibawa, ada 10 pemain muda yang memiliki masa depan cerah, mulai Sudirman, Rochy Putiray, Widodo Cahyono Putro, hingga Peri Sandria.

Pelatih Tim Garuda saat itu, Anatoli Fyodorich Polosin, memadukan pemain muda tersebut dengan beberapa pemain senior macam Robby Darwis, Hanafing, Eddy Harto, dan juga sang kapten, Ferril Raymond Hattu.

Kombinasi pemain junior dan senior itu terbukti berjalan baik. Di bawah tempaan keras Polosin, Timnas Indonesia tampil impresif di SEA Games edisi ke-16 tersebut.

Meski lebih mengandalkan permainan fisik ketimbang menerapkan gaya penampilan indah, Tim Garuda mampu tampil gemilang. Timnas Indonesia tak sekalipun menelan kekalahan, dan berhasil meraih medali emas SEA Games 1991.
Related Posts

Related Posts

Posting Komentar