LlgE7jWGs9pfx18ljCTds00cnAM7wTgN53nmXvop

Laporkan Penyalahgunaan

Cari Blog Ini

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Iklan 728x90

10 Lorem Ipsum is simply dummy text of the printing and typesetting industry. Lorem Ipsum has been the industry's standard dummy text.

Tel: +01 19 9876-54321

Email: contact@mail.com

Banner Produk

Tags

Menu Halaman Statis

Blogku

Fakhri Husaini Sebut Lebih Terhormat Gagal dengan Produk Lokal daripada Sukses dengan Produk Palsu

Fahri husaini saat memberikan Instruksi anak asuhnya di pinggir lapangan
Mantan patih timnas U-19 Fakhri Husaini sangat geram dengan isu penggunaan pemain naturalisasi untuk Timnas usia muda yang akan berlaga di Piala Dunia U-20 2021.

Menurut Fahri, penggunaan pemain naturalisasi di timnas Indonesia menunjukkan bahwa PSSI saat ini sedang panik sebagai tuan rumah.

Kegeraman Fahri terhadap PSSI lantaran muncul kabar bahwa ada lima pemain asal Brasil yang berusia 18-19 tahun yang akan dinaturalisasi. Masing-masing dua pemain berada di Persija dan Arema, sementara satu pemain lainnya di Madura United.

Namun, menanggapi kabar liar yang beredar liar di sosial media, PSSI melalui direktur tekhnik Indra Sjafri menepis anggapan bahwa kelima pemain tersebut merupakan bagian dari proyek naturalisasi pihaknya. Menurut mereka, keberadaan pemain-pemain muda asal Negeri Samba itu murni kepentingan klub.

Kenyataannya isu tersebut terlanjur meluas. Apalagi, sejumlah pihak sebelumnya menyatakan bahwa kelima pemain itu datang ke Indonesia tak lain atas permintaan PSSI.

Mantan pelatih timnas U-19 tersebut menilai jika nantinya benar-benar ada pemain naturalisasi di tubuh Timnas U-19, hal itu akan mematahkan semangat para pemain muda lokal.

Saat ini timnas U-19 di bawah Shin Tae-yong sedang menjalani Training Center (TC) di Jakarta dan telah berlangsung sekitar tiga pekan.

“Saya tidak bisa membayangkan, bagaimana 35 anak (ikut TC) yang sedang semangat-semangatnya, lalu mendengar berita seperti itu. Mereka ini pemain masa depan kita, kalau pun mereka gagal, kita harus mendukung mereka,” ujar Fakhri

“Ini kan sama saja mau berjuang, tapi sudah enggak berani, lutut sudah gemetar. Kalau memang enggak pede dengan pemain lokal, kenapa kemarin menggebu-gebu jadi tuan rumah? Saya enggak tahu ini kepanikan PSSI atau pemerintah. Kalau kepanikan PSSI, berarti PSSI sudah enggak percaya dengan hasil kompetisi yang mereka buat, enggak percaya dengan produk SSB,” lanjut fahri merasa geram.

Mantan juru latih Timnas U-16 dan U-19 ini juga menilai isu penggunaan pemain naturalisasi itu sama saja tak menghargai para pemain yang sudah berjuang sebelumnya. Apalagi, banyak dari nama-nama yang mengikuti TC di Timnas U-19, pernah membawa Timnas U-16 juara Piala AFF 2018.

Menurutnya, PSSI seharusnya memberikan apresiasi kepada para pemain muda lokal, bukan malah berencana melakukan naturalisasi. Perhelatan Piala Dunia U-20, lanjut Fakhri, sejatinya merupakan medium yang tepat untuk mengukur sejauh mana level sepak bola Indonesia.

“Bukan seperti ini cara membangun sepakbola, mengambil pemain dari luar, terus diberikan paspor yang katanya untuk memperkuat bangsa. Jangan-jangan lagu Indonesia Raya saja mungkin belum hafal. Piala Dunia U-20 sebenarnya paling bagus untuk melihat sepak bola kita di dunia sudah sampai sejauh mana. Kalau saya, lebih terhormat gagal dengan produk lokal, daripada sukses tapi sukses palsu,” tegasnya.

“Saya yakin Shin Tae-yong juga enggak akan mau gagal atau babak belur di sana, karena dia akan mempertaruhkan reputasinya. Dia pasti juga sudah punya rencana, punya game plan buat tampil di Piala Dunia U-20. Ajang ini seharusnya jadi momentum yang baik untuk PSSI dan pemerintah untuk mengevaluasi dan menyusun rencana ke depan seperti apa,” kata mantan kapten Timnas Indonesia ini.

Menurutnya, keberadaan pemain naturalisasi juga sama saja mengkhianati seluruh kompetisi dan pembinaan usia muda di Indonesia dan semua program tersebut perlu dievaluasi jika nantinya timnas usia muda memakai jasa pemain naturalisasi.

“Pemerintah tiap tahun rutin menggelar liga pelajar, ada gala siswa, belum lagi PPLP (Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar). Dengan semua program dan pusat pelatihan yang ada, tapi masih pakai pemain naturalisasi, berarti semua program itu harus dievaluasi. Kenapa enggak dari situ yang kita maksimalkan. Kalau enggak dapat dari situ, berarti ada yang salah dalam proses seleksinya atau merekrutnya,” ucapnya.

“Semua anak-anak punya cita-cita luhur jadi pemain timnas, tujuan akhir mereka kan memakai baju Merah Putih. Tapi, ketika tiba-tiba ada program naturalisasi, entah berapa banyak anak-anak SSB yang berhenti main bola,” pungkasnya.

Related Posts

Related Posts

Posting Komentar