LlgE7jWGs9pfx18ljCTds00cnAM7wTgN53nmXvop

Laporkan Penyalahgunaan

Cari Blog Ini

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Iklan 728x90

10 Lorem Ipsum is simply dummy text of the printing and typesetting industry. Lorem Ipsum has been the industry's standard dummy text.

Tel: +01 19 9876-54321

Email: contact@mail.com

Banner Produk

Tags

Menu Halaman Statis

Blogku

Kisah Kelam Sepak Bola Indonesia, Persebaya Mengalah Dari Persipura, Skor Ahir 12-0

Skuat persebaya
Kisah kelam sepakbola Indonesia,  Persebaya Mengalah 0-12 Dari Persipura, Sejarah Kelam Sepakbola Nasional
Persebaya Surabaya ketika melawan persipura, Pertandingan penuh kontroversi itu dikenal dengan peristiwa “Sepak Bola Gajah”.

Salah satu noda ‘hitam’ dalam perjalanan persepakbolaan Indonesia yang hampir berjalan kurang lebih dari 90 tahun selain dibanned dalam pertandingan internasional adalah pertandingan yang dikenal dengan peristiwa “Sepak Bola Gajah”.

Untuk masyarakat Jawa Timur, terutama masyarakat Surabaya tentu tidak asing dengan nama peristiwa di atas. Peristiwa itu terjadi dalam lanjutan kompetisi Divisi Utama musim 1987-88 yang mempertemukan antara Persipura melawan Persebaya di Stadion Gelora 10 Nopember pada 21 Februari 1988. Pada pertandingan  tersebut, anak-anak Bajul Ijo kalah 0-12 dari tim tamu notabene tidak diunggulkan saat itu.

Namun, yang sebenarnya terjadi adalah anak-anak asuh Almarhum Agil H.Ali mengalah dari Mutiara Hitam. Hal itu dilakukan karena suatu dendam dan suatu permintaan yang tidak bisa dihindarkan. Ya, anak-anak Bajul Ijo secara pertandingan dan kultural memiliki dendam terhadap PSIS Semarang karena kekalahan mereka di final Divisi Utama musim 1986-87.

Dalam sebuah buku berjudul “Sepak Bola Gajah Paling Spektakuler” dijelaskan bahwa almarhum Agil adalah “master mind” di balik peristiwa itu,

”Saya ingat betul, saat itu, tiga hari sebelum pertandingan, kami dikumpulkan Pak Agil (Agil H Ali, manajer Persebaya kala itu) di Hotel Majapahit,” ujar Muharam, legenda Persebaya yang menghadiri peluncuran buku karya Slamet Oerip Prihadi dan Abdul Muis Masduki pada 29 Juni 2016 lalu di JX (Jatim Expo).

Seperti sebuah pepatah “sekali dayung dua pulau terlampaui”, maka kejadian tahun  1988 ini pun juga tak jauh dari itu. Agar bisa membalaskan dendam mereka kepada Laskar Mahesa Jenar, maka caranya adalah dengan memberikan kemenangan kepada Persipura atau dengan kata lain, Persebaya harus mengalah di depan pendukung mereka sendiri.

PSIS Semarang yang berada dalam satu wilayah (timur) bersama Persipura, Persebaya, dan beberapa tim lainnya gagal lolos ke babak 6 besar karena kalah margin gol dari Persipura yang berada tepat di atas mereka dan 3 tim yang akhirnya mewakili zona timur adalah Persiba Balikpapan, Persipura serta Bajul Ijo.

”Kata Pak Agil, permintaan ini tidak hanya datang dari pengurus Persebaya. Tapi juga dari seluruh masyarakat Surabaya,” lanjut Muharam.

Kendati terlihat tak sportif, mengutip Agil, pertandingan itu bukan hanya untuk kepentingan masyarakat Surabaya semata, tetapi juga untuk Indonesia dan masih sangat rawan terpecah belah.

Almarhum Agil berpandangan bahwa, terdegradasinya Hino Cofu (julukan Perseman) dari Divisi Utama sehari sebelum pertandingan  “Sepak Bola Gajah” ditambah dengan jika anak-anak Mutiara Hitam tak lolos ke babak 6 besar akan menambah kesedihan masyarakat Papua. Hal itu juga membuat hilangnya hiburan olahraga dari daerah Matahari Terbit tersebut, memperdalam luka masyarakat disana serta sangat memungkinkan munculnya konflik.

”Bahkan, kata Pak Agil, maaf, para pelacur di Dolly saja menginginkan kami ngalah demi NKRI,” tambah Muharam dikutip Jawapos.com.

 Jika orang awam melihat ini sebagai sejarah kelam, untuk para pemain Bajul Ijo sendiri, kejadian itu dimaknai dengan santai tanpa harus penuh ketegangan seperti yang disampaikan oleh legenda Persebaya lainnya seperti Mustaqim, yang kala itu juga menghadiri peluncuran buku tersebut,

”Kami tersentuh dengan itu. Meski belakangan kami tahu bahwa sebagian surat itu ditulis sendiri oleh Pak Agil hehehe,” ujarnya sambil tertawa.

 Adapun keberanian itu diambil oleh Agil serta anak asuhnya karena saat itu, jangkauan FIFA atau pun regulasi dari PSSI sendiri belum seketat sekarang atau pun dari FIFA sendiri masih belum memiliki teknologi yang secanggih seperti sekarang,

”Apalagi, saat itu juga tidak ada ancaman sanksi dari FIFA atau PSSI. Jadi, kami tenang-tenang saja,” kata Seger S
Related Posts

Related Posts

Posting Komentar